.

Laju Zat Pencemar tak Bisa Diblokir

 
SERAMBI/SA DUL BAHRI  

Justice Aceh, Zat pencemar yang menyebabkan ribuan ikan di Krueng Meriam, Tangse (Pidie) dan Krueng Teunom (Aceh Jaya) mati sudah tak mungkin lagi dibendung (diblokir) karena ia sudah berhari-hari masuk ke dalam aliran sungai, sehingga terjadi pelarutan. Arus sungai bahkan akan membawanya ke muara dan berujung ke laut.

Namun, apabila kondisi air di muara (kuala) Krueng Teunom, Aceh Jaya tenang, maka zat polutan itu akan lebih lama mengendap di hilir sungai. Tapi kalau muaranya tidak tenang (airnya mengalir lancar ke laut), maka proses pelarutan dan penghilangannya akan lebih cepat, sehingga dampak keracunan yang ditimbulkannya terhadap biota sungai semakin kecil.

Pernyataan itu disampaikan Dr Saiful MSi, peneliti kimia analitik di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh yang dihubungi Serambi tadi malam. Selain Saiful, Serambi juga menghubungi Prof Dr Muchlisin ZA, Pembantu Dekan I Fakultas Kelautan dan Perikanan Unsyiah.

Dari kedua pakar ini ingin dijaring pendapat ilmiah apakah masih mungkin memblokir aliran zat pencemar yang dalam dua minggu terakhir merasuki sungai di Pidie dan Aceh Jaya sehingga banyak ikan, terutama ikan kerling, yang mati dan sejumlah warga yang mengonsumsi ikan itu pun mual-mual dan pusing.

Saiful yang juga Ketua Program Studi Magister Kimia FMIPA Unsyiah berpendapat, kalau zat polutan sudah masuk ke sungai, maka terjadi pelarutan. “Pada saat itu kita tak bisa bendung lagi. Dia akan mengalir menuju hilir dan akhirnya ke laut,” kata Saiful.

Saat zat pencemar berada di muara, maka akan terjadi dua kemungkinan. Pertama, dia akan tergeser ke laut dan mencemari biota laut sehingga akan ada ikan atau udang laut yang terkontaminasi dan kemungkinan mati juga, seperti yang dialami ikan sungai. Tapi itu hanya terjadi jika zat pencemarnya berupa logam berat, semisal merkuri, sianida, atau arsenik. Golongan logam berat ini tetap bisa mencemari laut, karena ia tidak terurai sesampai di laut.

Kemungkinan kedua, zat pencemar itu justru larut dan terurai sesampai di laut sehingga ia tidak menjadi ancaman bagi biota laut. “Itu hanya mungkin jika zat pencemarnya bukan logam berat, ya katakanlah berupa sulfida atau belerang,” kata doktor jebolan Universitas Twentee, Belanda ini.

Saiful sengaja menyebut sulfida karena tim peneliti dari Unsyiah yang turun ke Geumpang, Pidie, beberapa hari lalu menemukan kemungkinan lain bahwa yang mencemari Krueng Meriam, Tangse maupun Krueng Teunom, Aceh Jaya, selama ini bisa saja bukan logam berat (merkuri atau sianida), melainkan belerang (sulfida). “Tapi ini memerlukan penelitian lebih lanjut,” katanya.

Menurut Saiful, Geumpang di Pidie, merupakan daerah vulkanik. Gerakan vulkanik (gempa) kecil saja bisa menyebabkan keluarnya cairan dan gas yang mengandung sulfida. Nah, sulfida inilah yang kemungkinan masuk ke sungai dan meracuni ikan.

Asumsi Saiful kian menguat karena ia sudah dapat bocoran dari hasil pengujian sampel yang dilakukan tim Bapedal Aceh. Ternyata pada sampel air tempat ditemukan ikan mati itu, kandungan sulfidanya tinggi.

Menurut Saiful, anion sulfida (S2-) bereaksi secara reversibel dengan air. Anion hidrosulfida (HS-) dan H2S(aq) merupakan larutan asam lemah yang dapat mengubah pH air dan menjadi penyebab kerusakan insang dan penyakit lainnya pada ikan.

“Jadi, jangan cepat mengambil kesimpulan seperti menyalahkan kegiatan pengolahan tambang emas masyarakat yang telah membuang limbah merkuri ke dalam sungai. Umumnya limbah merkuri tidak menyebabkan kematian ikan secara massal, tetapi akan terakumulasi dalam jaringannya, serta akan menimbulkan keracunan dan kematian bagi yang mengonsumsi ikan tersebut,” kata Saiful.

Prof Muchlisin yang ditanyai Serambi terpisah tadi malam bercerita banyak tentang apa yang sudah dilakukan timnya di Geumpang, Pidie. Timnya turun untuk bisa menjawab secara ilmiah penyebab kematian ikan secara massal di Krueng Tangse dan Krueng Teunom. Maka, timnya mengambil sampel di delapan lokasi untuk tiga parameter: sulfida, merkuri, dan sianida.

“Kami sudah ambil sampel ikan kerling yang masih hidup/mabuk dan yang mati, juga ikan lainnya yang tidak terpengaruh. Kami juga mengambil siput, air, sedimen, dan lumut dari delapan lokasi. Dengan teknik sampling yang demikian hasilnya dapat diterima secara ilmiah. Setelah hasil labnya ada, maka akan segera kami sampaikan untuk menjawab peristiwa (kematian ikan) ini secara ilmiah,” kata pakar perikanan jebolan USM Malaysia ini.

Muchlisin juga memberi catatan bahwa ikan yang mati hanya ditemukan dari Krueng Meukop ke bawah. Di atas sungai itu ikannya tidak mati. Krueng Meukop sendiri berhulu di gunung api Peuet Sagoe di Pidie. Warga Geumpang mengatakan sepanjang Ramadhan lalu kecamatan mereka dua kali digoyang gempa lokal. Tiga hari setelah gempa pertama, warga menemukan ikan mati di sungai, tapi tak banyak. Tiga hari menjelang Lebaran Idul Fitri, gempa kembali terjadi.

Setelah itulah warga menemukan ribuan ikan mati. Sepekan kemudian, bangkai ikan yang sudah membusuk itu hanyut ke Krueng Teunom. Lalu di Teunom pun ditemukan banyak ikan mati.

Muchlisin dan timnya menduga, gempalah yang memicu sulfida masuk ke sungai lalu menjadi penyebab ikan banyak mati.“Tapi yang perlu digarisbawahi adalah ini dugaan awal yang perlu dibuktikan dan sebagai second opinion atas isu yang berkembang selama ini. Kita hati-hati sekali memberi statement karena datanya belum cukup untuk diambil kesimpulan karena perlu waktu. Mungkin dalam dua minggu ke depan sudah ada laporan lengkap dari hasil kajian ini,” kata Muchlisin.

|aceh.tribunnews.com
Baca Juga Berita ini close button minimize button maximize button

Berita Lainnya

Nanggroe 2541844904874823888

Justice Terkini



Berita Sebelumnya...

Berita Foto


Translate

.
item