Gaza Terus Digempur, AS Tawarkan Jadi Penengah
https://atjehjustice.blogspot.com/2014/07/gaza-terus-digempur-as-tawarkan-jadi.html
Justice Globe - Washington, Pesawat tempur Israel tetap melancarkan serangannya ke Gaza, namun gagal menghentikan serangan roket Hamas. Amerika Serikat menawarkan diri untuk menjadi penengah negosiasi bagi tercapainya gencatan senjata antara kedua pihak.
Dengan gempuran yang semakin memburuk di Gaza, Presiden AS Barack Obama menelepon langsung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menyampaikan bahwa pemerintahnya siap menengahi gencatan senjata. Obama khawatir pertempuran di Gaza semakin meluas.
"Menyerukan kepada semua pihak untuk melakukan semuanya yang mereka bisa demi melindungi warga sipil," demikian seruan Obama yang disampaikan oleh Gedung Putih AS, seperti dilansir AFP, Jumat (11/7/2014).
"AS tetap siap memfasilitasi penghentian permusuhan, termasuk kembali pada perjanjian gencatan senjata November 2012," imbuh seruan tersebut.
Pada tahun 2012 lalu, tercapai kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh mantan Menlu AS Hillary Clinton serta otoritas Mesir. Kesepakatan tersebut mengakhiri serangan udara Israel terhadap target Hamas di wilayah Palestina selama 8 hari berturut-turut.
Seruan bagi gencatan senjata dalam waktu dekat juga datang dari Sekjen PBB Ban Ki Mon. Dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB, pada Kamis (10/7/2014) kemarin, Sekjen Ban menyebut gencatan senjata sangat mendesak untuk dilakukan.
Menghadapi seruan-seruan tersebut, Israel tak menggubris. Bahkan PM Netanyahu dilaporkan menyebut opsi gencatan senjata tidak pernah ada dalam agenda Israel. Israel terus menggempur Gaza sepanjang Kamis (10/7/2014) dan dilaporkan menewaskan lebih dari 30 warga Palestina, yang sebagian besar wanita dan anak-anak.
Di sisi lain, Hamas yang menguasai wilayah Gaza juga tampak tak tertarik untuk menyerah. Dalam waktu 48 jam terakhir, Hamas terus menembakkan roket ke wilayah Israel dan beberapa dilaporkan jatuh di dekat Yerusalem dan Tel Aviv.
"Musuh (Israel-red) yang memulai agresi ini dan dia yang harus berhenti, karena kami (hanya) mempertahankan diri kami," tegas anggota senior Hamas yang juga mantan Perdana Menteri Hamas, Ismail Haniya.


