Pesona Taman Putroe Phang
https://atjehjustice.blogspot.com/2014/04/pesona-taman-putroe-phang.html

Justice Holiday - Banda Aceh - Taman Putroe Phang merupakan sebuah taman yang ada di kawasan Kota Banda Aceh. Taman Putroe Phang ini merupakan salah satu tempat yang benyak dikunjungi oleh warga Banda Aceh dan sekitarnya.
Taman ini tertata rapi, pepohonan yang rindangpun tumbuh bersemi di dalam area taman, sehingga menghadirkan kesejukan dan kenyamanan bagi pengunjungnya.
Tidak sedikit pengunjung melepaskan kepengatannya disini, mulai dari yang muda sampai yang tua pun tidak mau ketinggalan menikmati masa akhir pekan di Taman Putroe Phang.
Di Taman ini pun terdapat banyak ukiran sejarah kekuasaan kerajaan Aceh. Dan, hingga saat ini masih bisa dilihat dan disaksikan oleh masyarakat. Taman Putroe Phang ini juga merupakan sebagai buktik Aceh dan Malaysia mempunyai ikatan Sejarah. Putroe Phang (Putri Kamaliah), yang merupakan istri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Negeri Phang. Putri Pahang ini merupakan putri dari kerajaan Malaysia.
Taman ini dibangun karena Sultan sangat mencintai permaisurinya sehingga sang permaisuri tidak kesepian bila di tinggal sultan menjalankan pemerintahan. Di dalam Taman Putroe Phang terdapat Pintoe Khop merupakan pintu yang menghubungkan istana (Meuligoe) dengan Taman Putroe Phang yang berbentuk kubah. Di mana di bawahnya mengalir anak sungai Krueng Daroy, yang selalu dijadikan oleh sang permaisuri sebagai tempat berenang dan bercengkrama bersama dayang-dayangnya. [p]
Taman Potroe Phang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pembangunan dilakukan atas permintaan Putroe Phang (Putri Kamaliah) permaisuri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Kerajaan Pahang, Malaysia.
Taman ini dibangun karena Sultan sangat mencintai permaisurinya sehingga sang permaisuri tidak kesepian bila di tinggal sultan menjalankan pemerintahan. Di dalam Taman Putroe Phang terdapat Pintoe Khop merupakan pintu yang menghubungkan istana (Meuligoe) dengan Taman Putroe Phang yang berbentuk kubah. Di mana di bawahnya mengalir anak sungai Krueng Daroy, yang selalu dijadikan oleh sang permaisuri sebagai tempat berenang dan bercengkrama bersama dayang-dayangnya. [p]


